Pages

Thursday, September 17, 2015

Islamofobia dan apalah apalah.. #IStandWithAhmed pagi hari ini



Ahmed Mohamed 14years old - saat ditangkap oleh kepolisian Texas City

Pagi ini membaca kabar di beberapa media berita online dunia..sampe temen-temen di Indo juga membicarakan perihal berita ini. Terjadi lagi islamofobia di Texas City. Adalah Ahmed Mohamed pelajar berusia empat belas tahun yang ditangkap kepolisian Texas.

Bermula dari sekolah tempat dia belajar, ia membuat jam digital dari kotak pensilnya dan ia tunjukkan kepada guru di sekolahnya. Bukannya mendapatkan pujian atas "karya" nya, dia malah di tangkap dengan tuduhan membuat bom.

"I built the clock to impress my teacher, but when I showed it to her, she thought it was a threat to her." katanya.
"So it was really sad that she took a wrong impression of it and I got arrasted for it later that day." lanjutnya.

Ayah nya mengatakan, ini karena namanya dan karena sebelas September. "But because his name is Mohamed and because of Sept 11, I think my son got mistreated." Ujar Mohamde Elhasan Mohamed, ayah Ahmed kepada Dallas Morning News.

Mungkin jika dia bernama Michael, Tom, or Christian tidak akan terjadi seperti ini. Dan bahkan "penemuan" dari kotak pensilnya akan menuai pujian. Bukan tuduhan bahkan di skors hingga ditangkap oleh polisi.
Dan sekali kesalahan ini terjadi, bukan malah menjadi "mematikan" cahaya islam di dunia barat atau menjatuhkan atau apalah apalah. Namun justru menuai simpati yang luar biasa dari kalangan masyarakat dunia.

Easy boy..udah di undang noh ke gedung putih. Di tunggu juga sama Mark Zuckerberg, hehee.








Alright, Ahmed tetaplah berkarya meski mereka mengira kau teroris. Agama kita gak ngajarin kita jahat kok. Ya kalo ada yang jahat sih itu karena orangnya bukan agamanya. Peace out, Speak up, and kalo kata Hillary Clinton "stay curious and keep building" :D




Tulisan pagi hari ini

Wednesday, September 16, 2015

Shehrazat dan Kisah 1001 Malamnya

Sheherazade and Sultan Schariar by Ferdinand Keller - 1880




Jika kita mendengar nama shehrazat, memang kita akan teringat dengan kisah 1001 malamnya. Tentu kita sudah sangat akrab dengan cerita-cerita di dalamnya. Atau kita justru malah tahu betul cerita-cerita 1001 malam itu tanpa tahu asalanya cerita itu ada. Sperti kisah Ali Baba, Sinbad atau Kisah Aladdin.

Alkisah seorang raja bernama Shahryar mendapati istrinya sedang tidur seranjang dengan budaknya. Dengan rasa sakit hati dan murka, Raja menghabisi keduanya. Namun ternyata, rasa sakit hati tidak sampai disitu saja. Murka Amarah raja bak menjalar mendarah daging. Akhirnya, ia perintahkan seorang pegawai tertinggi kerajaan (wazir) agar mencarikan gadis untuk dia nikahi. Namun, gadis itu hanya dinikahinya semalam saja dan akan dibunuh ke esokan harinya. Dan begitulah hari-hari berjalan selama bertahun-tahun. Tiga tahun lamanya, sudah beratus-ratus gadis tak berdosa ia bunuh.Rakyat pun menyerukan perlawanan, rakyat mengutuk sang raja dan memohon kepada Allah untuk menghancurkan raja dan pemerintahannya. Para gadis ketakutan, para ibu menangis, para orang tua melarikan anak-anaknya hingga tidak ada lagi gadis di wilayah kerajaannya.Sampai pada akhirnya hanya tersisa dua orang gadis di wilayah kerajaan, yaitu dua orang putri dari Wazir nya sendiri, putri tertuanya Shehrazat dan adiknya Duniazat.

Ketika sang wazir pulang kerumah dengan wajah muram dan pucat, Shehrazat menghampiri ayahnya dan bertanya. Perihal apakah yang membuat ayahnya murung? Sang ayah pun bercerita tentang masalahnya. Alih - alih merasa takut dan khawatir akan keberadaannya, Shehrazat malah menawarkan diri untuk dinikahkan dengan sang raja. "Ijinkan aku menikah dengannya, Ayah" pintanya. "Bisa jadi aku akan tetap hidup, atau aku akan menjadi tumbal bagi gadis - gadis muslim lainnya dan menyelamatkan mereka dari tangan raja dan tanganmu, Ayahku".

Seorang ayah pastilah sangat mencintai anaknya, begitupun sang wazir. Jelas dia menolak dan mendesak putrinya untuk memikirkan alternatif lain. Menikahkan anaknya dengan sang raja sama artinya menyerahkan putrinya pada kematian. Tapi shehrazat meyakinkan ayahnya, dia percaya bahwa dirinya akan bisa menakhlukan sang raja, menghentikan pembantaian yang ia lakukan selama ini. Dan berniat mengobati penyakit hati sang raja dari amarah, dendam dan murkanya dengan menceritakan kisah-kisah dan segala peristiwa yang pernah menimpa orang - orang lain.

Dalam kisah-kisah yang dia ceritakan, Shehrazat mengajak sang raja menjelajahi negeri - negeri yang jauh untuk mengenal cara - cara orang lain yang belum dia kenali hingga sang raja dapat menyadari ketidakberesan didalam dirinya. Bahwa ada penyakit hati didalam dirinya yang membuat hidupnya kelam seperti itu. Shehrazat berniat membantu sang raja melihat penjara didalam dirinya dan kebencian obsesifnya terhadap perempuan. Shehrazat begitu yakin, jika dia berhasil membawa raja melihat bagaimana dirinya sendiri, dan ia akan dapat berubah untuk mencitai sesama manusia. Akhirnya, dengan sangat terpaksa sang ayah mengijinkan putrinya dan menikahkannya dengan Raja Shahryar.

Begitu memasuki kamar tidur sang raja, Shehrazat mulai bercerita tentang suatu cerita yang sangat memikat. Dan dengan sangat cerdik, dia membuat cerita itu menggantung di bagian yang paling menegangkan hingga sang raja tidak ingin berpisah di keesokan hari dengannya. Maka sang raja membiarkan Shehrazat tetap hidup hingga malam berikutnya hingga cerita itu dapat diselesaikan. Akan tetapi pada malam kedua, Shehrazat mengisahkan cerita lain yang lebih seru. Cerita yang juga jauh dari kata selesai ketika pagi telah tiba, dan sang raja membiarkannya tetap hidup.

Hal yang sama berulang pada malam - malam berikutnya, dan begitu seterusnya hingga seribu malam, yang berarti hampir tiga tahun. Hingga sang raja tidak mampu membayangkan dapat hidup tanpa Shehrazat. Akhirnya sang raja dan Shehrazat memiliki dua orang anak, dan setelah seribu satu malam, sang raja menghentikan kebiasaan mengerikan itu, dia tak lagi memenggal kepala perempuan yang tak berdosa akibat dari dendam dan murkanya terhadap perempuan.



Dikutip dari :
Buku "Perempuan-Perempuan Harem" Karangan Fatima Mernissi

Friday, September 4, 2015

Kabut Asap

Kabut asap di Jambi - pic taken by harianjambi.com


Kebakaran lahan hutan di Jambi, Sumatera Selatan dan Medan dan beberapa titik api di pulau Sumatera. Dan terjadi juga di beberapa daerah di Pulau Kalimantan. Sudah harus menjadi konsentrasi pemerintah untuk menangani hal ini. Di tengah-tengah koaran inflansi dollar yang naik-turun kaya abege labil, adalah hal lain yang harus segera ditangani.

Dilansir dari bbc.com  data yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada kamis kemarin, menunjukkan saat ini ada 178 titik api yang tersebar di Sumatera. Konsentrasi titik api di pulau Sumatera adalah di daerah Sumatera Selatan dan Jambi. Ada 80 titik api di Sumatera Selatan, 69 titik api di Jambi, 10 titik api di Bangka Belitung dan 5 titik api di Riau. Kebakaran lahan hutan di Jambi dan Sumatera Selatan sudah berlangsung dua minggu, dan angin berhembus ke arah utara. Ini menyebabkan penyebaran asap meluas ke berbagai daerah sekitarnya.

Lokasi titik api berada di tengah hutan, dan akses untuk melakukan pemadaman darat sangatlah sulit. Jalan terbaik untuk mengupayakan pemadaman adalah jalur udara dengan waterbombing atau pengguyuran air atau hujan buatan. Sedangkan wilayah tersebut masih belum mengeluarkan status darurat, tanpa status darurat upaya waterbombing hanya bisa dilakukan didarat. Sayang sekali, beberapa heli waterbombing tidak bis aberoperasi dikarenkan izin terbang habis.Maka dengan kata lain, api akan terus memakan hutan, dan asap akan terus merajalela.

Kabut asap telah membahayakan pernapasan. Banyak siswa-siswi yang tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar karena sekolah-sekolah diliburkan. Para pekerja pun bekerja memakai masker  karena asap telah masuk ke dalam ruangan. Pengendara pun harus sangat berhati-hati karena jarak pandang yang tidak memungkin untuk kita dapat melihat jelas kejalan. Penerbangan di beberapa daerah lumpuh. Dan masyarakat sudah banyak terkena dampaknya terutama sangat menganggu pernapasan.

Teringat saat masa kecil dulu di tanah kelahiran ku, kota Jambi. Saat itu aku masih bersekolah di Sekolah Dasar. Waktu itu tahun 90an, aku masih bisa berangkat bersekolah. Karena sekolah ku tidak terlalu jauh dari rumah, maka aku hany perlu jalan kaki untuk sampai kesekolah. Hampir mendekati lingkungan sekolah sudah banyak berpapasan dengan teman-teman satu sekolah dan tiba-tiba Bbbrrraaaakkkkk!! aku tersungkur kedalam parit dipinggir jalan. Aku sempat hampir tak sadarkan diri beberapa detik dan kemudian membuka mataku segera karena jantungku tak karuan rasanya. Aku hanya terdiam melihat kondisiku, sudah kulihat tangan dan kaki ku berkucuran darah. Begitupun kepalaku, badanku lemas. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang kebetulan lewat untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Masker yang tadi ku pakai pun sudah tak lagi menutupi hidungku, entah kemana. Ibu yang mengenalku segera meminta seorang bapak setengah baya mengantarkanku menuju ke ruang UKS sekolah. Karena pada saat kejadian, UKS sekolah lah yang terdekat. Belum ada puskesmas didekat daerahku. Hanya ada posyandu dan yang aku tahu itu pun hanya buka satu kali dalam sebulan. Setelah aku dibawa ke UKS dan kondisi ku sudah lumayan membaik dari sebelumnya, ibu ku datang. Dia terlihat kaget dan panik. Mendengar cerita dari beberapa saksi yang melihat bahwa aku ditabrak pengendara sepeda motor saat menuju ke sekolah tadi. Sang pengendara pun tersungkur jatuh ke pelataran jalan yang berbatu. Meskipun hanya mendapat luka ringan, tetapi yang kulihat dia sangan shock atas kejadian itu. Dia juga berada di ruang UKS sekolah ku. Dia terduduk lemas dan menjelaskan semuanya kepada ibu ku. Menurutnya dan beberapa saksi, kabut asap pada saat itu sangat mengganggu jarak pandang. Terlebih itu di saat pagi hari dan aku memakai seragam putih, hanya tas selempang hitam yang bisa menandakan bahwa ada orang yang sedang berjalan didalam tebalnya kabut asap.
kabut asap terlihat menutupi area jalan utama di kota jambi - taken pic by metroterkini.com


Ya, kabut asap sangatlah mengganggu. Bukan hanya terjadi padaku yang menyebabkan aku tertabrak karena jarak pandang yang buruk. Tapi aku juga melihat sendiri bagaimana teman sekelasku menderita sesak napas didalam kelas karena tak lagi dapat menahan asap yang masuk ke kelas kami. Sungguh itu pengalaman buruk yang aku alami. Untungnya beberapa hari selanjutnya, sekolah meliburkan aktifitas belajar mengajar. Dan kami diberi tugas rumah yang banyak agar proses belajar tetap berjalan dirumah meskipun sekolah diliburkan.

Dengan kejadian ini, dan kabut asap yang kali ini terulang lagi, semoga pemerintah cepat mengambil tindakan. Terlepas dari semua isu yang berkembang karena lambatnya penanganan, aku berharap keadaan akan membaik secepatnya. Doaku terutama untuk keluarga ku yang berada di Jambi, Palembang, Riau, Medan dan sekitarnya, dan untuk semua saudara-saudara ku yang berada disana, semoga keadaan akan membaik, tak ada yang tertimpa musibah yang serius akan dampaknya kabut asap ini. Amiin

Salam sayangku untuk tanah kelahiranku..